Feed on
Posts
comments

Ba’da tahmid wa shalawat,

Ikhwah fillah rahimakumullah,

Welcome to the Jungle, kok Jungle? Memang menjadi tidak ada apa-apa ketika kita bisa menyesuaikan diri dengan hutan, atau kita terbiasa mendengar bahwa ada orang yang bahkan tinggal di hutan atau kata hutan kita fahami hanya sebagai salah satu kata ganti dalam kosakata kita sebagai tempat atau habitat. Tapi disisi lain kita juga harus pandai menjaga perasaan orang lain ketika ada sebagian orang yang tidak nyaman disetarakan dengan binatang, hanya karena kita bilang selamat datang di ‘hutan’. Lantas bagaimana bila ketersinggungan ini kemudian didramatisir, dan dibahasakan sebagai pelecehan derajat martabat, padahal tidak lebih hanya sekedar penyetaraan ke-mahluk-kan di mata Al Khaliq.

Saya ingat kisah sekelompok orang, yang diajak oleh seorang pengelola yayasan pemerhati ke sebuah kebun binatang dan oleh tour guidenya mereka ditinggal sebentar dengan seekor hewan jinak untuk mereka jadikan obyek wisata. Satu persatu dari mereka membahas kekaguman mereka terhadap binatang yang unik ini. Selama ini mereka hanya mendengar tentang binatang, dan belum pernah sekalipun memperhatikan dengan indera sendiri. Tak lama tour guidepun datang dan merekapun istirahat karena memang datang ke Kebun Binatangpun sudah agak kesiangan. Mulai terdengar orang pertama membuka topik obrolan pengisi waktu tentang kekaguman pada binatang tadi. Yang pertama bilang: “Lucu ya, hewan tadi kecil banget dan ketika kupegang dia diam saja”, “Apanya yang diam, aku pegang dia bergerak terus, lagian bukan kecil, tipis tepatnya”, kata orang kedua. Orang ketiga tak kalah testimoni: “Wah kalian ini gimana, lha wong saya sendiri merasakan sendiri dia itu besar dan kulitnya kasar”, “Kalian ini semua salah, dia itu kaya pohon kelapa, tapi kecil”, sahut yang lain. “Ga, aku pegang dia lebar tebal dan empuk” … dan akhirnya semua orang di kelompok itu ngotot dengan pendiriannya masing – masing bahwa pengalaman pribadinya yang paling benar dan tak lama ketika tour guide mereka mengajak untuk jalan lagi mereka tanya hampir berbarengan: “Mbak, yang tadi itu binatang apa ya?”, dengan santai gadis cantik ini menjawab “GAJAH, mari pak, bu, kita berangkat, jangan lupa tongkat dan kacamatanya jangan sampai ketinggalan” dan 7 orang buta itupun melanjutkan wisatanya kembali.

Moral of the story is: Bila kita tidak melihat segala sesuatunya secara mujmal, menyeluruh, integral, terpadu, lengkap, komperehensif atau istilah sekarang Holistik, maka bersiaplah masuk ke jurang kebenaran yang hanya 1/7. Artinya, kebenaran yang kita fahami tentu menjadi sangat beragam sesuai dengan referensi dan pengalaman. Ketika kita tidak mau menyatukan persepsi bahwa ‘kebutaan’ kita terhadap rabaan gajah, akan menyesatkan semuanya, dan herannya ini sering terjadi di kalangan kita, tidak hanya sebagian besar bangsa kita tercinta, Indonesia, namun juga hampir seluruh umat manusia. Semua merasa perlu mendahulukan prioritas, yang satu bilang ini dulu, tapi yang lain bilang bidang lain yang lebih perlu didahulukan. Mari kita tertawa bersama dengan penuh kesadaran bahwa kita tak ubahnya dengan 7 orang buta itu, ketika memang kita berpendirian kuat tentang perspektif kebenaran ‘Sebenar benarnya benar’.

Perbedaan Pendapat, mari kita budayakan, agar kita senantiasa bisa harmonis dalam perbedaan, ibarat 6 dawai gitar. Bayangkan kalo 6 senarnya bunyinya sama, Senar satu sampai Senar enam, ngaku Do semua. Cuma dua kemungkinannya, salah Stem senar atau semua senar itu baru diinterogasi sama Polisi.

Sesungguhnya kebenaran adalah kebenaran itu sendiri, sedang sudut pandangnya silahkan saja mau dilihat dari sebelah mana dengan kacamata apa, dan dari jarak berapa. Konsep ketuhanan semua ajaran agama sejatinya sama, menuju kepada satu Tuhan. Berhenti sampai kepada tahapan judul, ana setuju sama JIL-nya Ulil Abshar Abdala dengan tulisan di Homepage – Websitenya, La ilaha ilallah artinya Tiada tuhan selain Allah, Tuhan semua agama. Kok begitu?! Ini penjelasannya:

Dari beberapa perbincangan yang ana lakukan dengan begitu banyak umat beragama, dan dari beberapa literatur, ana temukan bahwa konsep ketuhanan semua ajaran agama adalah sama. Mari kita perhatikan satu persatu:

Kita mulai dari ‘saudara langit’ kita Nashoro, dalam kemurnian ajaran mereka mengajarkan ketauhidan, mitsal dalam Kitab Ulangan pasal 6 ayat 4 & 5, “Dialah Allah yang Esa, Kasihilah keesaan Allah dengan dengan segenap hatimu dan segenap fikiranmu” Apalagi kalo bukan Tauhid? (bahwa ada pergeseran nilai ketuhanan oleh Paulus sang Perusak Aqidah Umat itu kita bahas lain kali kalo ada yang tertarik bahasan Kristologi) Taoisme dibawa oleh Tao Te Cing yang pernah mengalami stagnan dalam pencariannya disaksikan para muridnya, mengaku ada kekuatan besar yang menguasai diluar kekuatan dirinya, tapi Tao sendiri tidak tahu siapa namanya. Apalagi kalo bukan Tauhid? Isme Kong Hu Cu diusung oleh Kong Fu Tse yang sejatinya juga punya Tuhan, berawal dengan konsep Tauhid, tapi dengan keterbatasan pemahaman dan pengembangan serta penyesuaian penyampaian, maka Dewi Kwan Im, juga Kwan Kong ditambah beberapa nama lain sebagai para dewa malahan jadi sesembahan, ini hanya akibat sebuah pelencengan ajaran oleh pemeluknya. Budha tidak diajarkan oleh Sidharta Budha Gautama yang melakukan pencarian sebagaimana Rasulullah Ibrahim AS, tapi dia menjadi Budha yang dijadikan contoh hidup yang membumi, mudah difahami dan di ikuti, istilah mereka maitri karuna dan Budha juga punya Tuhan yang agak susah difahami bahkan terlalu rumit karena ghaib, diperparah oleh keberadaannya yang tak tersentuh manusia kasat mata di Nirvana (surga) sana. Apalagi kalo bukan Tauhid? Hindu meski punya konsep Trimurti, Hyang Brahma yang menciptakan alam semesta ini, The Creator. Hyang Wisnu, Dewa yang berkuasa atas pemeliharaan semesta alam, dan terakhir adalah Hyang Siwa yang punya Job Description sebagai The Demolition God, perusak, penghancur. Namun ketika mereka melakukan ‘mepuspa’ mereka mempersembahkan kebaikan dalam bentuk apapun, doa dan sesaji hanya kepada Sang Hyang Widi Wasa. Apa kalo bukan Tauhid?

Maka ketika kita mendengar kata sembahyang, (pernah ana bahas disini) asalnya adalah Sembah & Hyang artinya nyembah Dewa, maka asal kata bahasa Indonesia (sanskerta) untuk Tuhan adalah Tuh Hyang artinya Kepala Dewa, sama dengan rajanya raja - Al Malikul Mulk cuma beda terminologi. Di Jepang, mereka juga punya semangat Mujahid yakni Bushido, Nilai Bushi bila dipaparkan panjang lebar akan bermakna sama dengan Jihad, maka Bushido sejajar dengan Mujahid. Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa sejatinya Allah yang satu yang selama ini kita sembah, (mohon maaf) sudah lebih dahulu disembah oleh mereka, dan antum semua ga usah marah dengan cara mereka menamakan Allah kita itu dengan Elloi, Ilahi, Gohonzon, God, Yehova, Tuh Hyang, dan lain lain. Justru kita harus marah kepada diri sendiri mengapa selama ini kita menutup diri dan ekslusif terhadap mereka yang butuh informasi tentang Allah yang sebenarnya dalam konsep Al Islam.

Di Cina, di Jepang, di India, di Eropa bahkan di semua benua masing – masing punya keterbatasan pemahaman, hanya saja kita belum tuntas mensyiarkan Islam kepada mereka, makanya pemahaman mereka menjadi seperti itu. Kalaupun sudah ada syiar Islam disana, mungkin metodologinya (Fiqh Dakwah) perlu pembenahan, sehingga Islam akan berkembang dikalangan mereka sendiri. Dan justru mendoakan saudara kita di kelompok Jamaah Tabligh agar mereka istiqomah, karena jasa mereka-merakalah banyak orang mengenal Islam. Apakah harus dengan cara seperti itu saja memperkenalkan islam? Tentu ga hitam putih begitu, itu kan hanya salah satu pendekatan Fiqh Dakwah, karena bila kita minta mereka memberikan dalil hadits khuruj 3 hari, mereka akan jujur mengaku tidak ada. Bahwa nilai Jihad jadi agak dijadikan prioritas belakangan dalam kelompok ini, itu ekses bentukan Feodalisme Inggris yang tidak menghendaki mereka (Muslim) di India, Pakistan, Bangladesh berjihad melawan penjajahan, seperti dicontohkan Tuanku Imam Bonjol, Cut Nya Dien, Pangeran Diponegoro, Patimura, Sisingamangaraja, Panglima Besar Sudirman dan sederetan nama Mujahid dan Mujahidah yang sengaja tidak diperkenalkan sebagai Da’i atau Mubaligh. Tapi lebih diperkenalkan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Lagi lagi pengebirian Indahnya Nilai Perjuangan Islam.

Inilah perlunya membaca dan mencari berbagai macam ilmu, baik filsafat maupun hal yang sesat, supaya kita tidak ikut sesat, dan bisa faham falsafah hidup. Agar tidak seperti katak dalam tempurung, dan berkembang menjadi Global Player, dimanapun kita berada, kita selalu jadi solusi, sebagaimana Rasulullah SAW dan Islam, SOLUTIF. Sebagian dari kita merasa cukup nyaman dengan analogi rasional, sebagian lagi nikmat berkutat dengan syariat, kelompok lain asyik masyuk dengan tariqat. Ibarat makan di Warung Padang masa kini yang lengkap, kita tidak harus makan yang pedas-pedas ketika kita terpaksa masuk kesana, karena ada menu Ayam Goreng, Sop, Perkedel, bahkan Oreg Tempe ala Warteg juga siap makan disana, yang penting kita sama – sama kenyang dan bisa makan bersama dengan saudara kita, bukan makanannya yang penting, makan bersamanya yang jauh lebih penting. Dan ana tidak pernah liat ada sekelompok orang makan bareng di Warung Padang, yang satu ngotot mengharuskan semuanya makan rendang, kalo ngga, Ga usah makan!

Ketika telah sampai pemahaman kita pada tahapan holistik, akan sangat memudahkan kita untuk melihat dari berbagai segi, memahami dan menghargai betapa orang berbeda pola pikir, menilai dari berbagai sudut pandang, intinya menjadi bijak karena lebih dulu tahu bukan masalah lebih cerdas atau lebih pinter dari siapapun. Ini yang memang susah dicapai karena kecenderungan manusia kata Pakar Psikologi Modern - Douglas Mc Gregor mengarah ke Manusia X, agak susah keluar dari comfort zone (zona nyaman). Bagaimana mengaplikasikan itu semua? Susah dong? ya susah kalo ga pernah dimulai, dan ga tahu mulai dari mana. Kalo boleh pinjam istilah George Bush di Ground Zero, “…mereka tidak akan pernah bisa menghancurkan Fondasi kita…” maka kita bisa meletakkan semuanya dengan penuh kehati-hatian di atas Fondasi Keimanan yang benar, yang bersih tanpa kontaminasi. Masalahnya untuk bersihin fondasi kita sering malas, karena merasa sudah bersih. Nah ini sejatinya persoalan alias esensi dari pemikiran dasar Iblis sudah ada di kepala kita. Lihat bagaimana sikap Iblis, ketika diperintah Allah untuk bersujud kepada Kemuliaan Nabi Adam AS? Iblis menolak dengan statement: “Saya lebih baik dari dia”, esensi inilah yang ada ketika kita menolak keberadaan pendapat orang lain, Na’uduzu billahi min dzalik.

Ikhwah fillah, bicara soal kebenaran yang Maha Benar, kita harus masuk kepada tahap akhir yakni bertemu dengan Sang Maha Benar, prosesnya lewat mati dulu, dikubur, tunggu sampai kiamat, baru kemudian nanti kita akan dibangkitkan, dihisab, dan ditimbang, baru kemudian sesuai ponten yang kita punya, diserahkan kepada para pecinta duniawi, atau dijebloskan dalam kesulitan pencapaian Syurga. Untuk itu maka, mau tidak mau kita harus belajar mengenali air mana yang bener untuk wudlu yang bener supaya shalat kita bener, dan diterima bener oleh sang Maha Bener. Kenapa? soalnya yang dijadikan ‘fondasi’ pertama kali dihisab adalah Shalatnya, jika baik shalatnya, maka baik semuanya, begitu sebaliknya. Soal Yakin dan Percaya, bagaimana kita mengimani Allah dan RasulNya, mari sama-sama kita perhatikan sejauh mana Iman kita terhadap Allah dan RasulNya? Waduh, jauh panggang dari api kalo kita mau niru Rasul SAW sebagai contoh hidup yang membumi, tapi sekali lagi bukan berarti lantas kita ga mencontoh beliau karena tingkat kesulitan atau tepatnya kemalasan dan keengganan kita merubah diri. Allah akan menilai prosesnya bukan hasil akhirnya, karena Dia yang punya kuasa atas segala hasil akhir. Bab Amal Shalih? sampai hari ini banyak yang tidak tahu kegiatan mana atau aktifitas apa yang sudah jadi amal shalih, karena masih sering ada pamrih ketika bersikap dan kerap rusak keikhlasan karena perilaku individu yang dijadikan patokan. Bukannya kembali kepada Ridho Allah jadi orientasi awal dan akhir. Astaghfirullah al adzim.

Dalam rangka tawa shaubil haq watawa shaubish shobr ini, mari kita senantiasa saling rekatkan jalinan ukhuwah, apapun faham kita, siapapun imam mahzab kita, apapun partai kita, blok manapun kita tinggal, dengan tingkat pendidikan setinggi apapun kita, dan sejauh apapun pemahaman berbagai ilmu yang kita punya, karena di yaumil akhir nanti, kita punya harapan yang sama akan kebahagiaan kekal abadi tanpa akhir. Bahwa ada yang mampir ke Neraka sebagai prosedur pembersihan hingga suci untuk kelayakan Jannah, mari kita hadapi sebagai sebuah resiko dari semua amaliah kita selama ini yang sering tambéng (bandel) terhadap apa yang dipagarkan kepada kita.

Wallahu ‘alambish showab

Abu Rizqy Al Jambary

KOMITMEN adalah …

KOMITMEN

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami menerima istrinya dengan segala kekurangan dan kelemahannya tanpa menghakimi. Bersyukur ketika istrinya tampil menawan, dan sama bersyukurnya ketika sang istri mengenakan daster dengan wajah berminyak tanpa make-up. Bersyukur ketika bentuk tubuh sang istri berubah setelah melahirkan, dan tetap mengecupnya sayang sambil bilang, “Kamu cantik.”

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami tidak membongkar
kelemahan istrinya pada orang lain. Sebaliknya, menutupi rapat-rapat setiap
kekurangan itu dan dengan bangga bertutur bahwa sang istri adalah anugerah
terindah yang pernah hadir dalam hidupnya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri menunggui suaminya pulang hingga larut malam, membuatkan teh hangat dan makanan panas, dan tetap terbangun untuk menemani sang suami bersantap serta mendengarkan
cerita-ceritanya yang membosankan di kantor.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri bertahan ketika suaminya jatuh sakit, dan dengan sukacita merawatnya setiap hari. Menghiburnya, menemaninya, menyuapinya, memandikannya, membersihkan kotorannya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri terus mendampingi
suaminya tanpa mengeluh atau mengomel. Sebaliknya, dengan setia tetap
mendukung dan menyemangati meski sang suami pulang ke rumah dengan tangan kosong, tanpa sepeser uang pun.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat sepasang suami istri memutuskan untuk terus mengikatkan diri dalam pernikahan, dengan tulus dan sukacita, meskipun salah satu dari mereka tidak bisa memberikan anak.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat putra pelaku kriminal berkata kepada
Ayahnya, “Saya percaya pada Papa.. Papa tetap yang terbaik.”

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang yang bergelar S3 dengan
jabatan direktur perusahaan multinasional pulang ke rumah orangtuanya,
mencium mereka dengan hormat, serta memanggil mereka ‘Ayah’ dan ‘Ibu’.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ayah menerima kembali anaknya yang telah menyakiti dan meninggalkannya begitu rupa dengan tangan terbuka, memeluknya dan melupakan semua kesalahan yang pernah dilakukan si anak terhadapnya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ibu mengelus sayang anak yang pernah mencacinya, dan tetap mencintainya tanpa syarat.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang mengulurkan tangan kepada sahabatnya yang terjerembab, menariknya berdiri dan membantunya berjalan tanpa mengatakan, “Tuh, apa kubilang! Makanya.”

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang pekerja menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik, sekalipun tugas itu amat berat dan upah yang diperoleh tidak sepadan.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang membulatkan hati dan tekad demi mencapai sebuah tujuan, sekalipun ia belum dapat mengetahui hasil akhir dari tujuan tersebut. Berjerih payah dan berkorban demi menyelesaikan
tujuannya, sekalipun semua orang meninggalkannya.

Komitmen adalah sesuatu yg membuat seseorang rela meninggalkan segala
sesuatu yg berharga demi memenuhi panggilan hidupnya, walau harga yg hrs
dibayar tidak sedikit dan medan yg ditempuh tidak ringan.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang memikul resiko dan
konsekuensi dari keputusannya tanpa mengeluh, dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan yang terus berproses.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang berani setia dan percaya,
meski harapannya tidak kunjung terpenuhi dan tidak ada yang dapat dijadikan
jaminan olehnya.

Komitmen adalah sesuatu yang melampaui segala bentuk perbedaan, perselisihan dan pertengkaran. Ia tidak dapat dihancurkan oleh kekurangan, kelemahan maupun keterbatasan lahiriah. karena ketika kita berani mengikatkan diri dalam sebuah komitmen, kita telah ‘mati’ terhadap kepentingan diri sendiri..

Izinkan saya menyimpulkan tulisan ini dengan kalimat seorang perempuan bijak
yang saya temukan beberapa waktu lalu: “In the final analysis, commitment
means: ‘Here I am. You can count on me. I won’t fail you.’”

SELAMA MEMBACA TULISAN INI SAYA TERHARU, BANGGA, CINTA, DAN TAK SADAR MENITIKKAN AIR MATA….

Tulisan ini mencoba memberikan persepsi lain atas Muhammad (SAW) dari orang2 yang bukan pengikutnya. Tujuannya sih, biar yang belum baca jadi baca, yang sudah baca baca lagi, (pengikutnya) yang belum cinta jadi cinta, yang sudah cinta jadi tambah cinta melebihi cinta pada dirinya, yang sudah cintanya kayak gitu yaa biar bisa nularin deh sama yang lain.

ENCYCLOPEDIA BRITANNICA
“Sejumlah besar sumber awal menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang jujur dan berbudi baik yang dihormati dan ditaati orang-orang yang sepertinya (jujur dan berbudi baik) (Vol. 12)”
MAHATMA GANDHI (Komentar mengenai karakter Muhammad di YOUNG INDIA):

“Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia… Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang ) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung.

Sir George Bernard Shaw (The Genuine Islam,’ Vol. 1, No. 8, 1936.)

“Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris – bahkan Eropa - beberapa ratus tahun dari sekarang, Islam-lah agama tersebut.”
“ Saya senantiasa menghormati agama Muhammad karena potensi yang dimilikinya. Ini adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad – sesosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti-kristus, dia harus dipanggil ’sang penyelamat kemanusiaan’.”
“Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia: Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini”
“Dia adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaruan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh ajarannya, dan ia juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang.
Dia adalah Muhammad (SAW). Dia lahir di Arab tahun 570 masehi, memulai misi mengajarkan agama kebenaran, Islam (penyerahan diri pada Tuhan) pada usia 40 dan meninggalkan dunia ini pada usia 63.
Sepanjang masa kenabiannya yang pendek (23 tahun) dia telah merubah Jazirah Arab dari paganisme dan pemuja makhluk menjadi para pemuja Tuhan yang Esa, dari peperangan dan perpecahan antar suku menjadi bangsa yang bersatu, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum tak berhukum dan anarkis menjadi kaum yang teratur, dari kebobrokan ke keagungan moral. Sejarah manusia tidak pernah mengenal tranformasi sebuah masyarakat atau tempat sedahsyat ini – dan bayangkan ini terjadi dalam kurun waktu hanya sedikit di atas DUA DEKADE.”

MICHAEL H. HART (THE 100: A RANKING OF THE MOST INFLUENTIAL PERSONS IN HISTORY, New York, 1978)
Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama. (hal. 33). Lamar tine, seorang sejarawan terkemuka menyatakan bahwa:
“Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasil yang dicapai menjadi tolok ukur kejeniusan seorang manusia; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad? Tokoh-tokoh itu membangun pasukan, hukum dan kerajaan saja. Mereka hanyalah menciptakan kekuatan-kekuatan material yang hancur bahkan di depan mata mereka sendiri.
Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tapi jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu; lebih dari itu, ia telah merubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa… Kesabarannya dalam kemenangan dan ambisinya yang dipersembahkan untuk satu tujuan tanpa sama sekali berhasrat membangun kekuasaan, sembahyang-sembahyangnya, dialognya dengan Tuhan, kematiannnya dan kemenangan-kemenangan (umatnya) setelah kematiannya; semuanya membawa keyakinan umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan sebuah dogma. Dogma yang mengajarkan ketunggalan dan kegaiban (immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa sesungguhnya Tuhan. Dia singkirkan tuhan palsu dengan kekuatan dan mengenalkan tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan.
Seorang filsuf yang juga seorang orator, apostle (hawariyyun, 12 orang pengikut Yesus-pen.), prajurit, ahli hukum, penakluk ide, pegembali dogma-dogma rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan, pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan spiritual, ialah Muhammad. Dari semua standar bagaimana kehebatan seorang manusia diukur, mungkin kita patut bertanya: adakah orang yang lebih agung dari dia?”

(Lamar tine, HISTOIRE DE LA TURQUIE, Paris, 1854, Vol. II, pp 276-277)
“Dunia telah menyaksikan banyak pribadi-pribadi agung. Namun, dari orang orang tersebut adalah orang yang sukses pada satu atau dua bidang saja misalnya agama atau militer. Hidup dan ajaran orang-orang ini seringkali terselimuti kabut waktu dan zaman. Begitu banyak spekulasi tentang waktu dan tempat lahir mereka, cara dan gaya hidup mereka, sifat dan detail ajaran mereka, serta tingkat dan ukuran kesuksesan mereka sehingga sulit bagi manusia untuk merekonstruksi ajaran dan hidup tokoh-tokoh ini.
Tidak demikian dengan orang ini. Muhammad (SAW) telah begitu tinggi menggapai dalam berbagai bidang pikir dan perilaku manusia dalam sebuah episode cemerlang sejarah manusia. Setiap detil dari kehidupan pribadi dan ucapan-ucapannya telah secara akurat didokumentasikan dan dijaga dengan teliti sampai saat ini. Keaslian ajarannya begitu terjaga, tidak saja oleh karena penelusuran yang dilakukan para pengikut setianya tapi juga oleh para penentangnya.
Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang - semua menjadi satu. Tiada lagi manusia dalam sejarah melebihi atau bahkan menyamainya dalam setiap aspek kehidupan tersebut - hanya dengan kepribadian seperti dia–lah keagungan seperti ini dapat diraih.”

K. S. RAMAKRISHNA RAO, Professor Philosophy dalam bookletnya, “Muhammad, The Prophet of Islam”
Kepribadian Muhammad, hhmm sangat sulit untuk menggambarkannya dengan tepat. Saya pun hanya bisa menangkap sekilas saja: betapa ia adalah lukisan yang indah. Anda bisa lihat Muhammad sang Nabi, Muhammad sang pejuang, Muhammad sang pengusaha, Muhammad sang negarawan, Muhammad sang orator ulung, Muhammad sang pembaharu, Muhammad sang pelindung anak yatim-piatu, Muhammad sang pelindung hamba sahaya, Muhammad sang pembela hak wanita, Muhammad sang hakim, Muhamad sang pemuka agama. Dalam setiap perannya tadi, ia adalah seorang pahlawan.
Saat ini, 14 abad kemudian, kehidupan dan ajaran Muhammad tetap selamat, tiada yang hilang atau berubah sedikit pun. Ajaran yang menawarkan secercah harapan abadi tentang obat atas segala penyakit kemanusiaan yang ada dan telah ada sejak masa hidupnya. Ini bukanlah klaim seorang pengikutnya tapi juga sebuah simpulan tak terelakkan dari sebuah analisis sejarah yang kritis dan tidak bias.
PROF. (SNOUCK) HURGRONJE:

Liga bangsa-bangsa yang didirikan Nabi umat Islam telah meletakkan dasar-dasar persatuan internasional dan persaudaraan manusia di atas pondasi yang universal yang menerangi bagi bangsa lain.
Buktinya, sampai saat ini tiada satu bangsa pun di dunia yang mampu menyamai Islam dalam capaiannya mewujudkan ide persatuan bangsa-bangsa.
Dunia telah banyak mengenal konsep ketuhanan, telah banyak individu yang hidup dan misinya lenyap menjadi legenda. Sejarah menunjukkan tiada satu pun legenda ini yang menyamai bahkan sebagian dari apa yang Muhammad capai. Seluruh jiwa raganya ia curahkan untuk satu tujuan: menyatukan manusia dalam pengabdian kapada Tuhan dalam aturan-aturan ketinggian moral. Muhammad atau pengikutnya tidak pernah dalam sejarah menyatakan bahwa ia adalah putra Tuhan atau reinkarnasi Tuhan atau seorang jelmaan Tuhan – dia selalu sejak dahulu sampai saat ini menganggap dirinya dan dianggap oleh pengikutnya hanyalah sebagai seorang pesuruh yang dipilih Tuhan.

THOMAS CARLYLE in his HEROES AND HEROWORSHIP
“(Betapa menakjubkan) seorang manusia sendirian dapat mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden (Baduy) menjadi sebuah bangsa yang paling maju dan paling berperadaban hanya dalam waktu kurang dari dua decade.”
“Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri.”
“Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia.”

EDWARD GIBBON and SIMON OCKLEY speaking on the profession of ISLAM write:
“ ‘Saya percaya bahwa Tuhan adalah tunggal dan Muhammad adalah pesuruh-Nya’ adalah pengakuan kebenaran Islam yang simpel dan seragam. Tuhan tidak pernah dihinakan dengan pujaan-pujaan kemakhlukan; penghormatan terhadap Sang Nabi tidak pernah berubah menjadi pengkultusan berlebihan; dan prinsip-prinsip hidupnya telah memberinya penghormatan dari pengikutnya dalam batas-batas akal dan agama (HISTORY OF THE SARACEN EMPIRES, London, 1870, p. 54).
Muhammad tidak lebih dari seorang manusia biasa. Tapi ia adalah manusia dengan tugas mulia untuk menyatukan manusia dalam pengabdian terhadap satu dan hanya satu Tuhan serta untuk mengajarkan hidup yang jujur dan lurus sesuai perintah Tuhan. Dia selalu menggambarkan dirinya sebagai ‘hamba dan pesuruh Tuhan’ dan demikianlah juga setiap tindakannya.

SAROJINI NAIDU, penyair terkenal India (S. Naidu, IDEALS OF ISLAM, vide Speeches & Writings, Madras, 1918, p. 169):
Inilah agama pertama yang mengajarkan dan mempraktekkan demokrasi; di setiap masjid, ketika adzan dikumandangkan dan jemaah telah berkumpul, demokrasi dalam Islam terwujud lima kali sehari ketika seorang hamba dan seorang raja berlutut berdampingan dan mengakui: ‘Allah Maha Besar’… Saya terpukau lagi dan lagi oleh kebersamaan Islam yang secara naluriah membuat manusia menjadi bersaudara.

DIWAN CHAND SHARMA:
“Muhammad adalah sosok penuh kebaikan, pengaruhnya dirasakkan dan tak pernah dilupakan orang-orang terdekatnya.
(D.C. Sharma, THE PROPHETS OF THE EAST, Calcutta, 1935, pp. 12)


James A. Michener, “Islam: The Misunderstood Religion,” in READER’S DIGEST (American edition), May 1955, pp. 68-70.
Muhammad, seorang inspirator yang mendirikan Islam, dilahirkan pada tahun 570 masehi dalam masyarakat Arab penyembah berhala. Yatim semenjak kecil dia secara khusus memberikan perhatian kepada fakir miskin, yatim piatu dan janda, serta hamba sahaya dan kaum lemah. Di usia 20 tahun, dia sudah menjadi seorang pengusaha yang sukses, dan menjadi pengelola bisnis seorang janda kaya. Ketika mencapai usia 25, sang majikan melamarnya. Meski usia perempuan tersebut 15 tahun lebih tua Muhammad menikahinya dan tetap setia kepadanya sepanjang hayat sang istri.

“Seperti halnya para nabi lain, Muhammad memulai tugas kenabiannya dengan sembunyi2 dan ragu2 karena menyadari kelemahannya. Tapi “Baca” adalah perintah yang diperolehnya, -dan meskipun sampai saat ini diyakini bahwa Muhammad tidak bisa membaca dan menulis – dan keluarlah dari mulutnya satu kalimat yang akan segera mengubah dunia: “Tiada tuhan selain Tuhan.”

“Dalam setiap hal, Muhammad adalah seorang yang mengedepankan akal. Ketika putranya, Ibrahim, meninggal disertai gerhana dan menimbulkan anggapan ummatnya bahwa hal tersebut adalah wujud rasa belasungkawa Tuhan kepadanya, Muhammad berkata: “Gerhana adalah sebuah kejadian alam biasa, adalah suatu kebodohan mengkaitkannya dengan kematian atau kelahiran seorang manusia.”
“Sesaat setelah ia meninggal, sebagian pengikutnya hendak memujanya sebagaimana Tuhan dipuja, akan tetapi penerus kepemimpinannya (Abu Bakar-pen.) menepis keingingan ummatnya itu dengan salah satu pidato relijius terindah sepanjang masa: ‘Jika ada diatara kalian yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa ia telah meninggal. Tapi jika Tuhan-lah yang hendak kalian sembah, ketahuilah bahwa Ia hidup selamanya”. (Ayat terkait: Q.S. Al Imran, 144 - pen.)

W. Montgomery Watt, MOHAMMAD AT MECCA, Oxford, 1953, p. 52.
“Kesiapannya menempuh tantangan atas keyakinannya, ketinggian moral para pengikutnya, serta pencapaiannya yang luar biasa – semuanya menunjukkan integritasnya. Mengira Muhammad sebagai seorang penipu hanyalah memberikan masalah dan bukan jawaban. Lebih dari itu, tiada figur hebat yang digambarkan begitu buruk di Barat selain Muhammad”

Annie Besant, THE LIFE AND TEACHINGS OF MUHAMMAD, Madras, 1932, p. 4.
“Sangat mustahil bagi seseorang yang memperlajari karakter Nabi Bangsa Arab, yang mengetahui bagaimana ajarannya dan bagaimana hidupnya untuk merasakan selain hormat terhadap beliau, salah satu utusan-Nya. Dan meskipun dalam semua yang saya gambarkan banyak hal-hal yang terasa biasa, namun setiap kali saya membaca ulang kisah-kisahnya, setiap kali pula saya mersakan kekaguman dan penghormatan kepada sang Guru Bangsa Arab tersebut.”

Bosworth Smith, MOHAMMAD AND MOHAMMADANISM,
London, 1874, p. 92.
“Dia adalah perpaduan Caesar dan Paus; tapi dia adalah sang Paus tanpa pretensinya dan seorang caesar tanpa Legionnaire-nya: tanpa tentara, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pengahasilan tetap; jika ada seorang manusia yang pantas untuk berkata bahwa dia-lah wakil Tuhan penguasa dunia, Muhammad lah orang itu, karena dia memiliki kekuatan meski ia tak memiliki segala instrument atau penyokongnya.”

John William Draper, M.D., L.L.D., A History of the Intellectual Development of Europe, London 1875, Vol.1, pp.329-330
“Empat tahun setelah kematian Justinian, pada 569 AD, telah lahir di Mekkah Arabia seorang manusia yang sangat besar pengaruhnya terhadap ummat manusia … Muhammad”

John Austin, “Muhammad the Prophet of Allah,” in T.P. ’s and Cassel’s Weekly for 24th September 1927.
Dalam kurun waktu hanya sedikit lebih dari satu tahun, ia telah menjadi pemimpin di Madinah. Kedua tangannya memegang sebuah tuas yang siap mengguncang dunia.

Professor Jules Masserman
“Pasteur dan Salk adalah pemimpin dalam satu hal (intelektualitas-pen). Gandhi dan Konfusius pada hal lain serta Alexander, Caesar dan Hitler mungkin pemimpin pada kategori kedua dan ketiga (reliji dan militer pen.). Jesus dan Buddha mungkin hanya pada kategori kedua. Mungkin pemimpin terbesar sepanjang masa adalah Muhammad, yang sukses pada ketiga kategori tersebut. Dalam skala yang lebih kecil Musa melakukan hal yang sama.”


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan

salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya

masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam”, kata Fatimah yang membalikkan

badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”

tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan

pandangan yang menggetarkan.

Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia.

Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan

tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan

kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit
dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?”, tanya Rasululllah
dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

“Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh

kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?”, tanya Jibril lagi.

“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah

berfirman kepadaku: “Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat

Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh

Rasulullah ditarik.

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya

menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?”
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata

Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak

tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera

mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku”

“peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan

telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii,ummatii, mmatiii?” - “Umatku, umatku, umatku”
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

1. Bersyukur apabila mendapat nikmat

2. Sabar apabila mendapat kesulitan

3.  Tawakal apabila mempunyai rencana/program

4. Ikhlas dalam segala amal perbuatan

5. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan

6. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan

7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan

8. Jangan usil dengan kekayaan orang

9. Jangan hasut dan iri atas kesuksesan orang

10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan

11. Jangan tamak pada harta

12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan

13. Jangan hancur karena kedzaliman

14. Jangan goyah karena fitnah

15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri

16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram

17. Jangan sakiti ayah dan ibu

18. Jangan usir orang yang meminta-minta

19. Jangan sakiti anak yatim

20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar

21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil

22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid)

23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu’

24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu

25. Biasakan shalat malam

26. Perbanyak dzikir dan do’a kepada Allah

27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunnat

28. Sayangi dan santuni fakir miskin

29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah

30. Jangan marah-marah berlebihan

31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan

32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah

33. Berlatihlah konsentrasi pikiran

34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab janji tersebut tidak terpenuhi

35. Jangan hidup mempunyai musuh kecuali dengan iblis/syetan

36. Jangan percaya kepada ramalan-ramalan manusia

37. Jangan terlampau takut miskin

38. Hormatilah setiap orang

39. Jangan terlampau takut kepada manusia

40. Jangan sombong, takabur, besar kepala

41. Bersihkan harta dari hak-hak orang lain

42. Berlakulah adil dalam segala urusan

43. Biasakan istigfar dan taubat kepada Allah

44. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala

45. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Qur’an

46. Perbanyak silaturrahmi

47. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam

48. Bicaralah secukupnya

49. Beristri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya
(nafkah lahir dan bathin)

50. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu

51. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur

52. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin

53. Sediakan waktu untuk santai dan rileks dengan keluarga

54. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan

55. Hormatlah kepada guru dan kepada ulama

56. Sering-sering bershalawat kepada Nabi S.A.W.

57. Cintai keluarga Nabi S.A.W.

58. Jangan terlalu banyak hutang

59. Jangan terlampau mudah berjanji

60. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan yang sementara

61. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti ngobrol-ngobrol yang tidak berguna, merokok dll.

62. Bergaullah dengan orang-orang yang shaleh

63. Sering bangun di penghujung malam, berdo’a dan beristighfar

64. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu melakukannya

65. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita

66. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi

67. Jangan membenci seseorang karena pahan dan pendirian

68. Jangan benci kepada orang yang membenci kita

69. Berlatihlah untuk berterus terang dalam menentukan sesuai pilihan

70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan

71. Jangan melukai hati orang lain

72. Jangan membiasakan berkata dusta

73. Berlaku adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian

74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab

75. Laksanakanlah segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan

76. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita

77. Jangan membuka aib orang lain

78. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi daripada kita

79. Ambillah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana

80. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah kita lakukan

81. Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya

82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara

83. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain

84. Jangan membikin orang lain menderita dan sengsara

85. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa

86. Hargai prestasi dan pemberian orang

87. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan

88. Akrablah dengan setiap orang walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan

89. Sediakan waktu untuk berolah raga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita

90. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental kita terganggu

91. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana

92. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita

93. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina

94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita sebelum dicek kebenarannya

95. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban

96. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebih-lebihan

97. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuan diri

98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan

99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan

100. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang

Aku Rindu PadaMu…   
Ada seorang hamba Allah, beliau rajin sholat malam dan bermunajat, berkhalwat dengan Al-Kholiq. Setiap malam dari kedua matanya yang memerah karena menangis, mengalir air yang membasahi janggutnya, beliau berbisik-bisik lirih memohon beberapa permintaan dan pengharapan. Dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, hingga putih rambutnya tak kunjung jua permintaan beliau dikabulkan oleh Allah. Permintaannya (diantaranya) adalah agar segera diangkat kemiskinan yang menjadi selimut kehidupannya selama ini, keluarganya sering sakit-sakitan, setiap hari ia keluar untuk berusaha memperoleh rizki Allah tapi tidak tampaklah dilapangkan rizqi itu untuknya.
Padahal dahulu, KETIKA IA MASIH BEKERJA MENJADI PETUGAS BEA CUKAI UANG DAN KESENANGAN ADALAH KAWAN AKRAB. Hingga suatu saat ia mendengarkan ceramah yang menjelaskan bahwa penyelewengan yang sering ia lakukan selama ini adalah Haram dan tidak membawa keberkahan, kelak penyelewengan ini akan berhadapan dengan hukum Allah yang tidak bisa dibantah lagi di akhirat. Bergetar hatinya, masuk hidayah Allah atasnya.
Sejak itu tidak pernah lagi ia melakukan perbuatan tersebut, semakin rajin ia melakukan sholatul Lail mengadukan nasibnya hanya kepada Allah, agar diberikan harta yang halal dan rizqi yang lapang dalam menghidupi hidup ini.
Namun berangsur-angsur seakan terkena kualat (karena meninggalkan perbuatan haram itu) PENGHASILANNYA SEMAKIN MENURUN, BELIAU SEKELUARGA SERING SAKIT DAN MENJADIKAN BADANNYA YANG SEHAT MENJADI KURUS, ANAK SATU-SATUNYA MENINGGAL SETELAH MENJALANI PERAWATAN SELAMA BEBERAPA MINGGU DIRUMAH SAKIT.
Sampai saat itu ia masih bersabar, tak pernah terucap dari mulutnya kata-kata keluhan dan makian atas apa yang menimpa hidupnya. Malahan menjadikannya semakin sering dan khusyu ia mendekatkan diri kepada Allah. Dan malang yang tidak kunjung padam terhadapnya, korupsi yang dahulu ia lakukan bertahun silam terungkap, maka ia dan beberapa orang rekannya terkena pemecatan dengan tidak hormat. Subhanallah, semakin berat rasanya hidup ini baginya. Tambah satu kalimat panjang di malam harinya ia mengadu kehadapan Rabbnya,menangis dan perih rasa batinnya. Setiap dalam sedihnya ia berdoa, selalu ada bisikan lirih di hatinya, “Apa yang engkau harapkan itu dekat sekali, bila engkau bertaqwa!”. Setiap mendengar bisikan itu, timbul semangatnya. Kini setelah ia dipecat, ia berdagang. Baginya dagang yang tidak pernah untung, hutang yang semakin bertumpuk, musibah yang seakan tidak berujung _.. ahhhhh.
Setelah puluhan tahun kedepan sejak ia dekat dengan Allah setiap malamnya,tidak juga merobah hidupnya. Sejak puluhan tahun ia mendengar bisikan diatas, tidak juga tampak yang dijanjikanNya. Mulailah timbul pemikiran yang tidak baik dari syaithon. Hingga beliau berkesimpulan, tampaknya Allah tidak ridho terhadap doanya selama ini.Maka pada malam harinya, ia berdoa kepada Allah : “WAHAI ALLAH YANG MENCIPTAKAN MALAM DAN SIANG, YANG DENGAN MUDAH MENCIPTAKAN DIRIMU YANG SEMPURNA INI. KARENA ENGKAU TIDAK MENGABULKAN PERMINTAANKU HINGGA SAAT INI, MULAI BESOK AKU TIDAK AKAN MEMINTA DAN SHOLAT LAGI KEPADAMU, AKU AKAN LEBIH RAJIN BERUSAHA AGAR TIDAKLAH HARUS BERALASAN BAHWA SEMUA TERGANTUNG DARIMU. MAAFKAN AKU SELAMA INI,AMPUNI AKU SELAMA INI MENGANGGAP BAHWA DIRIKU SUDAH DEKAT DENGANMU !”
Beliau tutup doa dengan perasaan berat yang semakin dalam dari awal ia berniat seperti itu (’mengkhatamkan’ ibadah sholat lailnya). Beliau berbaring dengan pemikiran menerawang hingga ia tak mengetahui kapan ia tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi, mimpi yang membuatnya semakin merasa bersalah. Seakan ia melihat suatu Padang luas bermandikan cahaya yang menakjubkan, dan puluhan ribu, atau mungkin jutaan makhluq cahaya duduk diatas betisnya sendiri dengan kepala tertunduk takut. Ketika beliau mencoba mengangkat wajahnya untuk melihat kepada siapa mereka bersimpuh, tidak mampu… kepalanya dan matanya tidak mampu memandang dengan menengadah.
Beliau hanya dapat melihat para makhluq yang duduk dihadapan Sesuatu Yang Dahsyat. Terdengar olehnya suara pertanyaan, “BAGAIMANA HAMBAKU SI FULAN, HAI MALAIKATKU ?” nama yang tidak dikenalnya. Seorang berdiri dengan tubuh gemetar karena takut, dan bersuara dengan lirih, “Subhanaka yaa Maalikul Quddus, Engkau lebih tahu keadaan hambaMu itu. Dia mengatakan demikian : “Wahai Allah yang menciptakan malam dan siang, yang dengan mudah menciptakan dirimu yang sempurna ini. Karena Engkau tidak mengabulkan permintaanku hingga saat ini, mulai besok aku tidak akan meminta dan sholat lagi kepadaMu, aku akan lebih rajin berusaha agar tidaklah terus beralasan bahwa semua tergantung dariMu. Maafkan aku selama ini, ampuni aku selama ini menganggap bahwa diriku sudah dekat denganMu !”
Ampuni dia yaa Al ‘Aziiz, yaa Al Ghofuurur Rohiim!”
Tersentak beliau, itu…_u kata-kataku semalam_ …celaka, pikirnya. Kemudian terdengar suara lagi : “Sayang sekali, padahal Aku sangat menyukainya, sangat mencintainya, dan Aku paling suka melihat wajahnya yang terpendam menangis, bersimpuh dengan menengadahkan tangannya yang gemetar kepadaKu, dengan bisikan-bisikan permohonannya kepadaKu, dengan pemintaan-permintaannya kepadaKu, sehingga tak ingin cepat-cepat Kukabulkan apa yang hendak Aku berikan kepadanya agar lebih lama dan sering Aku memandang wajahnya, Aku percepat cintaKu padanya dengan Aku bersihkan ia dari daging-daging haram badannya dengan sakit yang ringan. Aku sangat menyukai keikhlasan hatinya disaat Aku ambil putranya, disaat Kuberi ia cobaan tak pernah Ku dengar keluhan kesal dan menyesal di mulutnya. Aku rindu kepadanya… rindukah ia kepadaKu, hai malaikat-malaikatKu ?”
Suasana hening, tak ada jawaban. Menyesallah beliau atas pernyataannya semalam, ingin ia berteriak untuk menjawab dan minta ampun tapi suara tak terdengar, bising dalam hatinya karenanya. “Ini aku Yaa Robbi, ini aku. Ampuni aku yaa Robbi, maafkan kata-kataku !” semakin takut rasanya ketika tidak tampak mereka mendengar, mengalirlah air matanya terasa hangat di pipinya. Astaghfirullah !! Terbangun ia, mimpii…
Segeralah ia berwudhu, dan kembali bersujud dengan bertambah khusyu’, kembali ia sholat dengan bertambah panjang dari biasanya, kembali ia bermunajat dan berbisik-bisik dengan Al-Kholiq dan berjanji tak akan lagi ia ulangi sikapnya malam tadi selama-lamanya. “…aa Allah, Yaa Robbi jangan engkau ungkit-ungkit kebodohanku yang lalu, ini aku hambaMu yang tidak pintar berkata manis, datang dengan berlumuran dosa dan segunung masalah dan harapan, apapun dariMu asal Engkau tidak membenciku aku rela…aa Allah, aku rindu padaMu…”
Semoga menambah keimanan dan ketekunan kita dalam mengerjakan sholat lail…amiin.

Jikalah..

Jikalah..

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu hari nanti,
Saat semua telah menjadi masa lalu
Aku ingin ada di antara mereka
Yang bertelekan di atas permadani
Sambil bercengkerama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu.

[(Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha
senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja
dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang kuterima di sini)-

(Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak
mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam
raya, hingga sekarang aku berbahagia)]

Suatu hari nanti
Ketika semua telah menjadi masa lalu
Aku tak ingin ada di antara mereka
Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah:
Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

[(Duhai! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi
langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat
menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?)-

(Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap
saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup
bersabar meski hanya sedikit jua?)]

Rencana Tuhan itu Indah

 

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; " anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. "

Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata:"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.

Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah; "Allah, apa yang Engkau lakukan? " Ia menjawab: " Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"

Kemudian Allah menjawab," Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu."

SEBATANG RANTING

Rasulullah SAW bersama para sahabat sampai di sebuah gurun pasir yang tandus. Mereka beristirahat di gurun itu sebelum melanjutkan perjalanannya. Ketika mereka membutuhkan kayu bakar, Rasulullah memerintahkan, “Kumpulkanlah kayu bakar!” Beberapa orang sahabat terperanjat, “Wahai Rasulullah, lihatlah! Tanah ini tandus. Kita tidak dapat menemukan sebatang kayupun di sini.” Beliau SAW berkata, “Bagaimanapun keadaannya, kalian harus mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya.” Para sahabatpun menyebar ke gurun. Dengan seksama mereka mencari-cari kayu di tanah. Ranting sekecil apapun, akan mereka pungut jika mereka temukan. Tiap orang berusaha mencari kayu sebanyak-banyak dan mengumpulkannya dalam satu tempat. Setelah semuanya selesai, jadilah sebuah tumpukan besar kayu bakar.
Rasulullah SAW bersabda, “Dosa kecil itu tak berbeda dengan sebatang kayu yang kecil ini. Pada awalnya terlihat remeh. Namun masing-masing diikuti dengan ‘keremehan’ yang lainnya. Demikian seterusnya sehingga menjadi banyak. Dosa kalian juga akan dicatat dan dikumpulkan hingga suatu hari dimana kalian menyadari, bahwa dosa-dosa kecil yang kalian anggap remeh itu telah menjadi tumpukan dosa yang besar.”

Itulah sedikit kisah yang mengandung banyak hikmah. Sebuah kisah yang ketika pertama kali membaca judulnya, kunilai sangat sepele. Dan ketika kubaca ceritanya juga sepele, tentang ranting doang. Namun makna yang ada begitu menebarkan getaran di dada. Perumpamaan yang Rasulullah SAW sampaikan tentang sebatang ranting cukup membuat hati terperangah, terkejut, tersadar, dan malu. Betapa banyak dosa-dosa kecil yang aku lakukan. Mungkin saat melakukannya bahkan aku tak menganggapnya sebagai dosa karena menganggapnya remeh atau sepele. Padahal seorang Pele itu bukanlah orang yang sepele. Dia adalah seorang legendaris sepakbola yang kiprahnya bukan hanya membanggakan Brazil, tapi juga menyenangkan dunia. Maaf, agak nyasar!

Banyak contoh keremehan yang biasa kita lakukan. Misalnya, pelit senyum, malas mengucapkan atau menjawab salam, menghalangi orang lain untuk menggunakan haknya, ngentit uang setoran, menaikkan harga berlebihan, membuat iklan yang tak sesuai dengan kenyataan, menjitak anak kecil yang tak berdaya, menebar kentut diam-diam, ghibah, merasa paling benar, merasa paling suci, merasa hanya kelompoknyalah yang benar dan yang lainnya sesat, melarang yang tak dilarang, tak mengembalikan barang pinjaman, sengaja tak mau bayar hutang, menyunat gaji karyawan, pungli di jalan, menyogok dan menerima sogokan, besukaan dengan non-muhrim, merasa jadi pahlawan, mencicipi narkoba, menebar virus, mematikan password orang, dan segala hal-hal yang kita anggap sepele padahal menghambat kemaslahatan.Kalau kita renungi, dalam sehari, berapa banyak dosa-dosa sepele yang kita lakukan. Berapa banyak jika seminggu, bertumpukkah jika sebulan, menggunungkah jika setahun, dan seterusnya hingga kita mendapat jatah ajal. Benar juga apa kata Nabi SAW., ternyata hal-hal sepele itu memang selalu dianggap bukan masalah. Kita tak merasa berdosa ketika menyindir teman, padahal teman kita itu sakit hati. Lalu bagaimana agar kita tak menyepelekan dosa? Aku tak bisa menasehati kita. Kupikir kita sendiri bisa menasehati diri sendiri. Sebab sesungguhnya di dalam hati kita telah Allah sertakan ruh kebenaran yang senantiasa mengingatkan kita ketika kita akan melakukan dosa. Tinggal kita sendiri, kita menurut atau cuek terhadap bisikan ruh kebenaran itu.

Kalau tulisan ini dibuka dengan cerita sepele, maka saya memaksakan diri untuk menutupnya juga dengan kisah sepele. Sebuah pesan singkat namun kaya manfaat. Sebuah pesan Nabi SAW yang disampaikan kepada Ali bin Abi Thalib r.a.
“Wahai Ali, ada 3 derajat, 3 penghapus dosa, 3 bencana, dan 3 penyelamat.
Adapun ketiga derajat itu adalah: melakukan wudhu yang sempurna tatkala udara dingin menggigit, menunggu datangnya waktu shalat berikutnya setelah shalat, dan melalui malam dan siang dengan shalat jamaah.
Sedangkan ketiga penghapus dosa adalah: menyebarkan salam, memberikan makanan, melakukan tahajud di malam hari ketika kebanyakan orang sedang tidur.
Ketiga bencana yang dapat membinasakan adalah: bersifat kikir, mengikuti hawa nafsu, dan merasa kagum atas diri sendiri.
Adapun yang terakhir, 3 hal yang akan menyelamatkan adalah: takut kepada Allah baik saat sendiri maupun saat ramai, bersikap wajar ketika kaya atau miskin, dan selalu berkata benar saat suka maupun duka.”

Wallahu A’lam Bish Showab